Senin, 2 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
bioenergetik.bizbioenergetik.biz
bioenergetik.biz - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Kenapa Anak Lebih Dekat sama Nenek daripada Ibunya...

Kenapa Anak Lebih Dekat sama Nenek daripada Ibunya Sendiri?

Cerita seorang ibu yang kaget anaknya lebih nyaman cerita ke nenek. Ternyata ada pelajaran mengasuh yang sering kita lewatkan.

Kenapa Anak Lebih Dekat sama Nenek daripada Ibunya Sendiri?

Malam itu gue lagi lipat baju di kamar, sementara anak gue — si Kia, 6 tahun — asyik ngobrol sama ibunya gue di dapur. Suaranya kedengaran sampai kamar. Mereka lagi bahas kenapa cicak nggak jatuh dari langit-langit. Kia ketawa-ketawa, nanya ini-itu, dan ibuk gue jawab semua dengan sabar sambil nggoreng tempe.

Gue di kamar cuma bisa diam. Bukan karena cemburu, tapi karena sadar sesuatu: Kia jarang banget ngobrol sepanjang itu sama gue. Kalau sama gue, dia biasanya cuma jawab "iya", "nggak", atau "males". Tiga kata, selesai.

Padahal gue yang ngurus dia tiap hari. Gue yang bangunin, mandiin, anter sekolah, temenin belajar. Tapi kok rasanya ibuk gue yang lebih "dekat" sama anak gue sendiri?

Baca juga: Duduk Manis vs Ikut Campur: Garis Batas Kakek Nenek

Yang Sering Kita Sebut "Dekat" Itu Sebenarnya Apa?

Gue sempat mikir keras soal ini. Dan jujur, jawabannya nggak enak didengar.

Selama ini gue nganggap "dekat" itu artinya sering bersama. Gue sama Kia hampir 24 jam bareng. Tapi ternyata kebersamaan yang gue maksud itu lebih banyak diisi sama urusan teknis: "Udah mandi belum?", "PR-nya dikerjain ya", "Jangan main HP terus".

Sedangkan ibuk gue? Dia nggak ngurusin mandi atau PR. Dia cuma ada. Duduk, dengerin, nanya balik, ketawa bareng. Nggak ada agenda, nggak ada target.

Anak itu bukan mencari siapa yang paling banyak mengurusnya. Anak mencari siapa yang paling nyaman diajak bicara.

Nah, itu bedanya. Dan itu yang bikin gue agak "kalah" tanpa sadar.

Kenapa Nenek Bisa Menang di Urusan Ngobrol?

Gue perhatiin pola ini nggak cuma kejadian di rumah gue. Temen-temen gue yang lain juga cerita hal serupa. Anaknya lebih cerewet kalau lagi sama eyangnya. Kenapa?

Pertama, nenek nggak punya beban "mendidik". Waktu ngobrol sama cucu, dia nggak mikirin harus nyisipin nasihat atau nilai moral. Dia cuma menikmati obrolannya. Anak ngerasa diterima, bukan dinilai.

Kedua, nenek punya waktu yang terasa lebih longgar. Secara psikologis, anak bisa ngerasain kalau kita lagi buru-buru. Kalau kita jawab sambil scroll HP atau sambil ngerjain hal lain, anak tahu. Mereka berhenti cerita bukan karena nggak mau, tapi karena ngerasa "oh, mama lagi sibuk".

Ketiga — dan ini yang paling ngena — kita sebagai ibu sering kehabisan energi. Wajar sih. Ngurus rumah, kerja, urus anak, belum lagi urusan-urusan kecil yang nggak kelar. Jadi pas anak mau cerita panjang, reaksi pertama kita kadang "nanti ya, Mama capek".

Dan "nanti" itu, kalau diulang terus, lama-lama jadi "nggak pernah".

Jadi, Kita Harus Kalah sama Nenek?

Nggak juga. Ini bukan soal menang-kalah. Justru gue bersyukur Kia punya sosok lain yang bikin dia nyaman bercerita. Tapi gue juga nggak mau jadi orang asing di rumah sendiri.

Yang gue lakuin sekarang sederhana banget, dan mungkin bisa kamu coba juga:

  • Sediain 10 menit "tanpa agenda". Nggak nanya PR, nggak ngingetin mandi. Cuma duduk, main, atau dengerin apa pun yang dia mau omongin. Walau topiknya soal cicak.
  • Berhenti multitasking saat dia cerita. HP ditaruh, tangan berhenti. Kalau lagi masak, kecilin apinya sebentar. Anak butuh lihat mata kita, bukan cuma telinga kita.
  • Jangan langsung kasih solusi. Ini susah banget buat gue. Kalau Kia cerita masalah, refleks gue pengen nyuruh ini-itu. Padahal dia cuma pengen didengar. Solusi bisa nanti.
  • Nanya yang bikin dia bercerita, bukan yang bikin dia menjawab. "Hari ini seru nggak?" lebih membuka daripada "Tadi belajar apa?".

Yang Gue Pelajari dari Dapur Ibuk

Beberapa minggu setelah malam itu, gue coba duduk di dapur bareng Kia. Nggak ngapa-ngapain, cuma nemenin dia minum susu. Awalnya canggung. Dia bengong, gue juga bengong.

Tapi lama-lama dia mulai cerita. Soal temennya yang nangis di sekolah, soal bekal yang ditukar, soal kenapa kucing tetangga suka ngikutin dia. Hal-hal kecil yang selama ini nggak pernah gue dengar karena gue selalu sibuk nanya hal-hal "penting".

Gue sadar, hubungan sama anak itu bukan dibangun dari seberapa banyak yang kita lakuin buat mereka. Tapi dari seberapa sering kita beneran hadir saat mereka mau cerita.

Dan lucunya, ibuk gue nggak pernah ngajarin gue soal ini secara langsung. Dia cuma ngelakuin. Duduk, dengerin, ketawa bareng. Sesederhana itu.

Kalau kamu juga pernah ngerasa anak lebih dekat sama nenek, eyang, atau pengasuhnya, nggak perlu panik. Itu bukan tanda kamu gagal. Itu cuma tanda kamu butuh sedikit ruang kosong di hari-hari kamu — ruang yang isinya cuma kamu dan anak, tanpa tugas, tanpa target, tanpa "nanti ya".

Coba mulai malam ini. Sepuluh menit aja. Nggak usah ngobrol yang berat-berat. Tanya aja dia lagi mikirin apa. Siapa tahu jawabannya bikin kamu kaget — dan bikin kamu belajar lagi cara jadi ibu yang didengar, bukan cuma ibu yang mengurus.

Tags: hubungan keluarga mengasuh anak ikatan ibu dan anak pola asuh komunikasi keluarga