Sabtu, 17 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
bioenergetik.bizbioenergetik.biz
bioenergetik.biz - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Anakku Rewel, Ibuku Bilang "Dulu Kamu Juga Gitu

Anakku Rewel, Ibuku Bilang "Dulu Kamu Juga Gitu

Cerita seorang ayah di kampung yang belajar mengasuh anak dari ibunya sendiri, dan sadar pola asuh itu warisan.

Malam itu jam sebelas lewat. Anakku yang baru dua tahun masih saja menangis, badannya panas, susah tidur. Aku dan istriku sudah gantian menggendong, muter-muter di ruang tamu sampai kaki pegal. Di tengah kebingungan itu, ibuku yang tidur di kamar sebelah keluar, masih pakai selimut lusuh yang dia pakai sejak aku kecil, lalu bilang dengan santai, "Dulu kamu juga gitu, Nak. Rewel terus. Sabar aja."

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, malam itu rasanya kayak ada yang nyantol di kepala. Aku yang tadinya mau ngamuk karena capek, jadi diam. Duduk di kursi kayu dekat pintu, sambil lihat ibu mengelus punggung anakku pelan-pelan. Tangannya keriput, tapi gerakannya masih sama seperti yang aku ingat waktu kecil dulu.

Yang Aku Pelajari dari Tangan Ibuku

Di kampung kami, nggak ada yang namanya konsultasi ke psikolog anak atau baca buku parenting tebal-tebal. Yang ada ya ibu, bapak, simbah, tetangga yang kebetulan lewat. Kalau anak rewel, ya digendong. Kalau anak nggak mau makan, ya disuapin sambil jalan-jalan keliling halaman. Sesederhana itu.

Aku sempat mikir, apa cara-cara kayak gitu masih relevan sekarang? Zaman sudah beda, katanya. Tapi waktu lihat anakku akhirnya tidur tenang di pangkuan ibuku, aku sadar satu hal: yang dibutuhkan anak itu bukan teori canggih, tapi sentuhan yang tulus dan orang yang sabar menemaninya.

Ibuku nggak pernah baca artikel soal "gentle parenting" atau "attachment style". Tapi dia tahu kapan harus menggendong, kapan harus diam, kapan harus menyanyi lagu jawa yang cuma dia yang hafal liriknya. Itu ilmu yang dia dapat dari ibunya dulu, dan sekarang pelan-pelan pindah ke aku.

Pola Asuh Itu Warisan yang Nggak Kelihatan

Ada satu hal yang bikin aku agak kaget. Waktu anakku mulai susah makan, tanpa sadar aku ngomong persis kayak bapakku dulu. "Ayo makan dulu, nanti kalau nggak habis, nggak boleh main." Padahal aku dulu benci banget kalimat itu. Tapi ternyata keluar sendiri dari mulutku.

Ini yang bikin aku mikir panjang. Ternyata pola asuh itu nggak cuma soal apa yang kita pelajari, tapi juga apa yang kita serap tanpa sadar dari orang tua kita. Ada yang bagus, ada juga yang sebenarnya nggak mau kita ulang.

Aku pernah baca di suatu tempat, katanya orang tua yang bijak itu bukan yang selalu benar, tapi yang mau belajar dari kesalahannya sendiri. Aku setuju. Karena aku juga sering salah. Kadang terlalu keras, kadang terlalu lembek. Kadang aku ngomel cuma karena aku capek kerja, bukan karena anakku salah.

"Anak itu bukan proyek yang harus selesai tepat waktu. Dia manusia kecil yang sedang belajar jadi manusia dewasa."

Kalimat itu aku tulis di kertas kecil, aku tempel di pintu kamar. Biar tiap pagi aku ingat lagi.

Belajar dari Kampung, Belajar dari Orang Tua

Di kota kecil kayak tempat kami, ngasuh anak itu urusan bersama. Nggak kayak di kota besar yang semuanya harus mandiri, di sini tetangga bisa jadi nenek tambahan. Kalau anakku main ke rumah Pak RT, ya kadang disuruh makan dulu sebelum pulang. Kalau nangis di jalan, ada saja yang menggendong.

Aku sadar, ini kelebihan yang nggak semua orang punya. Sistem dukungan yang alami. Nggak perlu bayar, nggak perlu bikin jadwal. Cuma butuh kepercayaan sama orang sekitar, dan kehadiran kita sebagai orang tua yang tetap pegang kendali.

Tapi bukan berarti nggak ada masalah. Kadang ibuku masih pakai cara lama yang aku nggak setuju. Misalnya, kalau anakku jatuh, dia langsung bilang "Lantainya nakal, sudah dipukul." Aku nggak tega. Aku pengen anakku belajar bahwa jatuh itu resiko bermain, bukan salah lantai. Tapi ngomong gitu ke ibu sendiri juga nggak gampang. Jadi ya aku pelan-pelan, kadang cuma bilang "Nanti aku yang tenangin, Bu."

Kompromi yang Nggak Selalu Mulus

Nah, ini bagian yang paling susah. Antara menghormati orang tua dan tetap konsisten sama prinsip sendiri. Aku nggak mau jadi orang tua yang cuma ikut-ikutan, tapi aku juga nggak mau jadi anak yang nggak sopan sama ibunya sendiri.

Yang aku lakukan sekarang sederhana: aku pilih perang yang penting. Soal lantai nakal, aku diam. Soal anakku harus tidur siang atau nggak, aku diam. Tapi soal hukuman fisik, aku tegas. Aku bilang ke ibu, "Bu, aku nggak mau anakku dipukul, meskipun cuma cubit. Aku dulu sering, dan aku nggak mau dia ngerasain itu."

Ibu diam. Nggak marah, tapi juga nggak langsung setuju. Beberapa hari kemudian aku lihat dia ngomong ke anakku dengan nada lebih lembut. Nggak sempurna, tapi ada perubahan. Itu cukup buat aku.

Hal-Hal Kecil yang Ternyata Besar

Dari semua yang aku jalanin dua tahun terakhir, ada beberapa hal yang aku rasa paling penting buat orang tua di kampung atau kota kecil kayak kami:

  • Jangan malu minta bantuan, tapi tetap jadi orang tua utama. Nenek boleh ngasuh, tetangga boleh bantu, tapi keputusan besar tetap di kita.
  • Anak butuh kehadiran, bukan cuma mainan. Anakku lebih senang main sama aku di halaman belakang daripada dikasih mainan mahal tapi aku sibuk HP.
  • Pola asuh itu bisa diubah, meskipun susah. Kalau ada cara lama yang bikin anak kita nggak nyaman, kita boleh pelan-pelan ganti. Nggak perlu drama.
  • Istri atau suami itu tim, bukan lawan. Capek itu wajar, tapi jangan sampai capeknya bikin kita saling nyalahin.
  • Maafin diri sendiri kalau salah. Nggak ada orang tua yang sempurna. Yang penting besok lebih baik sedikit.

Malam itu, setelah anakku tidur, aku duduk sebentar di teras. Lihat langit gelap, dengar suara jangkrik. Aku ingat lagi kalimat ibuku tadi. "Dulu kamu juga gitu."

Dan aku baru sadar, mungkin itu bukan cuma cerita soal aku waktu kecil. Itu semacam pengingat, bahwa apa yang aku rasain sekarang — capek, bingung, kadang pengen nangis — itu semua pernah dirasain ibuku. Dan dia bertahan. Sendirian, tanpa internet, tanpa buku, cuma dengan cinta dan kesabaran yang entah dari mana datangnya.

Kalau ada satu hal yang aku pengen tanam di kepala anakku nanti, mungkin bukan soal nilai bagus atau prestasi. Tapi soal ini: bahwa keluarganya adalah tempat paling aman buat dia pulang, kapan pun, dalam keadaan apa pun. Termasuk kalau dia jadi orang tua nanti, dan anaknya rewel jam sebelas malam.

Semoga dia ingat, seperti aku sekarang ingat ibuku.

Tags: parenting keluarga pengasuhan anak kampung pengalaman pribadi

Baca Juga: 18totomasukindo.space